Ust rendi 1

 Rantauprapat I 23 April 2021

Ada yang berbeda pada kegiatan Pembinaan Mental (BINTAL) hari ini, antusias para pegawai juga dalam menyambut dan mendengarkan ceramah yang dilaksanakan pada hari Jumat 23 April 2021 pukul 09.00 bertempat di ruang Media Center Pengadilan Agama Rantauprapat. Penceramah hari ini yaitu ustadz yang diundang dari luar dan merupakan tokoh agama pada kabupaten labuhanbatu dan juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Rantau Utara Kabupaten Labuhanbatu Sumatera Utara yaitu Al-Ustadz H Rendi Fitrayana LC S.HI. Kegiatan Bintal yang dihadiri oleh Drs. H. Ribat S.H., M.H (Ketua). Buniyamin Hasibuan S.Ag ( Wakil ), Drs. Aidil ( Panitera ), Joni, S.Ag ( Sekretaris ), Para Hakim dan pegawai serta tenaga kontrak pada Pengadilan Agama Rantauprapat. Dalam kesempatan ini,  Al-Ustadz H Rendi Fitrayana LC S.HI. menyampaikan tausiahnya dengan tema Istiqomah dan Integritas. 

Kata istiqamah berasal dari akar kata qaama-yaquumu-qiyaman, yang artinya tegak berdiri dan lurus. Kata ini kemudian ditambah kata ista, yang kemudian menjadi istiqamah, yang dalam kaidah bahasa Arab tambahan ista berarti ada unsur permohonan atau permintaan. Jadi dari segi bahasa, istiqamah artinya permintaan untuk selalu tegak berdiri atau lurus dalam melakukan sesuatu. 

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ.

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Surat Huud 11 ayat 112)

Adapun dari hadis Rasulullah, ada beberapa riwayat yang berbicara tentang istiqamah, di antaranya:

”Di dalam Sahih Muslim disebutkan dari Sufyan bin Abdullah, dia berkata, Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku satu perkataan dalam Islam, sehingga aku tidak lagi bertanya lagi kepada seseorang selain Engkau.’ Rasulullah menjawab, ‘katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” Seperti di sebutkan dalam Al-Quran :

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?

Ayat itu menegaskan setiap manusia akan diuji oleh Allah. Jangan berharap seseorang yang beriman tidak akan mengalami ujian. Ujian untuk menguji keimanan itu bisa hadir melalui kesulitan, tapi juga bisa hadir melalui harta yang dianugerahkan Allah kepada kita, melalui anak-anak, juga pasangan kita. Ketika kita mengatakan beriman kepada Allah, tidaklah selesai urusan kita bahkan disitulah mulai datang ujian / cobaan dari Allah Subhanahu wata'ala. Oleh karena itu, kita harus belajar dari ujian-ujian keimanan yang diterima dari para sahabat nabi terdahulu dalam mempertahankan keimanannya. Ujian keimanan yang diterima para sahabat nabi yakni Siti Masyitoh, Bilal bin Rabbah, Amar bin Yasi, dan para sahabat nabi lainnya. Hal ini tentu saja menjadi pelajaran bagi kita ketika kita istiqomah dijalan Allah Subhanahu Wata'ala.

Berkaitan dengan integritas, integritas merupakan hal yang sangat mahal dilaksanakan pada era saat ini tetapi itu yang telah diajarkan oleh para ulama terdahulu sebagai contoh salah satu kisah seorang wanita tua mendatangi Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 Hijriyah), ulama besar pendiri Mazhab Hanbali untuk meminta fatwa "Wahai Imam, saya ini seorang janda tua yang miskin. Saya memiliki banyak tanggungan anak-anak yang masih kecil. Saya tidak memiliki penghasilan yang tetap. Kadang kami makan, kadang pula tidak ada yang bisa dimakan. Penghasilan yang bisa kuharapkan hanya dari menenun kain sebagai sampingan di malam hari, sebab seharian saya harus bekerja serabotan. Menenun pun hanya bisa saya lakukan di malam hari bila ada cahaya bulan, karena kami tidak memiliki kemampuan membeli minyak untuk cahaya lampu penerangan," kata wanita tua itu.

"Lantas apa yang engkau inginkan, wahai ibu?" tanya Imam Ahmad.

"Begini wahai Imam. Pada suatu malam, ada serombongan pasukan Khalifah memasang tenda di dekat rumah kami. Mereka memasang lampu-lampu penerangan, hingga cahaya biasnya masuk ke beranda rumah kami. Di beranda itu ada temaram bias cahaya terang dari lampu penerangan para prajurit. Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera saja menuju ke beranda bergegas menjahit pakaian, memanfaatkan sinar cahaya yang ada di beranda itu. Keesokan harinya, setelah selesai jahitan itu saya jual ke pasar, saya justru ragu-ragu mengenai hukum hasil jahitan saya itu, apakah hasilnya halal dimakan atau kah haram, sebab saya baru menyadari bahwa bias temaram cahaya penerangan di malam itu berasal dari uang negara. Saya memanfaatkan bias cahaya penerangan yang dibiaya negara, tanpa meminta izin pada Khalifah , halal kah hasil jahitan saya itu bagi saya dan anak anak saya?" 

Imam Ahmad bin Hanbal terperangah mendengar sifat wara wanita tua. Sang Imam penasaran ingin mengetahui siapakah gerangan wanita tua itu. "Siapakah Anda sebenarnya, wahai ibu?"

Si wanita miskin itu menjawab lirih, "Saya saudara perempuan Bisr bin Hafi!" Makin terkejutlah Imam Ahmad bin Hanbal mendengar pengakuan wanita itu. Bisr bin Hafi, seorang Gubernur yang shaleh yang tak pernah memanfaatkan uang negara untuk kepentingan pribadi, bahkan adik beliau salah satu orang termiskin pada masa kekuasaannya.

Subhanallah. Begitulah orang-orang dahulu menjaga amanah serta berhati-hati menjaga diri agar tak tersentuh dalam hal-hal yang syubhat sekalipun, apalagi dari hal yang diharamkan. Seperti yang diajarkan orang -orang sholeh pada zaman dahulu. Namun pada saat ini, sulit untuk melaksanakan integritas khususnya dalam kalangan pekerjaan. Integritas dibutuhkan oleh siapa saja, tidak hanya pemimpin namun juga yang dipimpin. Pemimpin dan yang dipimpin sama-sama  menepati janji-janjinya dan tidak pernah luntur dalam komitmennya. Orang yang hidup dengan integritas senantiasa memilih yang benar dan berpihak kepada kebenaran. Ini adalah tanda dari integritas seseorang. Mengatakan kebenaran secara bertanggung jawab, bahkan ketika merasa tidak enak mengatakannya.

Semoga kisah ini menjadi iktibar bagi kita semua. Kita berdoa semoga Allah terus memberi keistiqomahan kepada kita untuk terus mempertahankan iman kita dan integritas kita. Untuk mencapai bagaimana kita bisa menjaga integritas kita melalui komitemen yang kuat dari kita bersama dan target atau capaian yang kuat khususnya di bulan Ramadhan targetnya adalah ibadah kalau dikaitkan dengan pekerjaan tentunya target kerja yang merupakan ibadah. 

Demikian tausiah yang disampaikan oleh Al-Ustadz H Rendi Fitriyana LC, M.HI, acara ditutup dengan membaca Alhamdulillah semoga apa yang telah disampaikan menjadikan kita pribadi yang istiqomah. Jika memang terasa sungguh berat, terasa amat sulit maka bertekadlah untuk tetap berniat istiqomah berhijrah, berniat untuk menjadi lebih baik dari yang sekarang. Sebab tidak ada yang sulit jika Allah sudah berkehendak.

Batu yang keras bila ditetesi oleh tetesan air juga makin lama akan berlubang. Begitu juga hati, hati yang tadinya bebal tertutup, jika memang kita berniat bertekad untuk menjadikan kebaikan, ini selalu di hidup kita. Walau sekarang sulit, belum terasa di diri kita. Insyaallah kelak ia akan muncul, ia akan membersamai hidup kita. kebaikan itu akan terasa. Manisnya iman akan terasa. Insyaallah.

st rendi 2

 

 

  • aaaaUCAPAN PELANTIKAN rahmat 2.jpg
  • abCAPAN ribat.jpg
  • bUCAPAN buniyamin.jpg
  • cUCAPAN buRABIAH.jpg